BRMP Pascapanen Dorong Diversifikasi Kopi Robusta Tanggamus melalui Teknologi Espresso dan Dekafein
Tanggamus, Lampung – Potensi kopi robusta di Kabupaten Tanggamus, Lampung, terus didorong agar mampu menghasilkan produk bernilai tambah dan berdaya saing. Untuk mendukung pengembangan bisnis korporasi dan hilirisasi kopi, Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pascapanen Pertanian (BRMP Pascapanen) menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penerapan Teknologi Ekstraksi Kopi (Metode Espresso) dan Teknologi Dekafein untuk Mendukung Diversifikasi Produk Kopi pada 20–21 Oktober 2026 di Balai Desa Way Ilahan, Kabupaten Tanggamus.
Kabupaten Tanggamus merupakan salah satu sentra produksi kopi di Provinsi Lampung dengan kapasitas produksi yang disebut mencapai sekitar 32,4 ton per tahun. Potensi tersebut membuka peluang pengembangan industri kopi dari hulu hingga hilir, terlebih di tengah meningkatnya permintaan terhadap produk kopi siap pakai, konsentrat kopi, dan kopi dekafein. Pemanfaatan teknologi pascapanen menjadi salah satu langkah strategis untuk memperluas variasi produk sekaligus meningkatkan nilai tambah kopi lokal.
Melalui dukungan pendanaan Program Integrated Corporation of Agricultural Resources Empowerment (ICARE), BRMP Pascapanen memfasilitasi penyediaan peralatan dan pelaksanaan bimtek yang diikuti sekitar 40 peserta, terdiri atas petani dan anggota Koperasi Rani. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan serta keterampilan peserta dalam menerapkan teknologi pengolahan kopi, sehingga potensi produksi di daerah dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih beragam dan memiliki peluang pasar lebih luas.
Kegiatan dibuka oleh Camat Pulau Panggung, Kabupaten Tanggamus, Joni Repi, dan Dewi Rosmayanti selaku Penanggung Jawab Kegiatan ICARE Kopi. Rangkaian bimtek menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi, praktisi, dan peneliti untuk memberikan pemahaman mengenai teknologi ekstraksi kopi serta pengembangan produk turunannya.
Dian, dosen IPB University, menyampaikan materi pengenalan espresso dan berbagai produk turunannya. Selanjutnya, Firmansyah, praktisi kopi, memberikan penjelasan mengenai teknik ekstraksi untuk menghasilkan produk kopi dengan karakteristik yang diminati konsumen. Materi tersebut dilengkapi dengan praktik langsung pembuatan espresso menggunakan peralatan yang telah difasilitasi, sehingga peserta dapat memahami proses pengolahan sekaligus mengenal penerapan teknologi secara praktis.
Tidak hanya berfokus pada espresso, bimtek ini juga memperkenalkan teknologi dekafein sebagai alternatif diversifikasi produk kopi. Arvi, peneliti kopi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan teknik menghasilkan kopi dekafein serta potensi pengembangannya pada masa mendatang. Peserta kemudian mengikuti praktik penggunaan peralatan dekafein untuk mengenal proses penerapan teknologi tersebut secara langsung.
Melalui kegiatan ini, BRMP Pascapanen berharap petani dan anggota Koperasi Rani semakin kompeten dalam mengembangkan produk olahan kopi robusta yang beragam dan bernilai tambah. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi pascapanen, serta penguatan kelembagaan diharapkan dapat mendorong kemajuan proses bisnis dan hilirisasi kopi di Kabupaten Tanggamus, sekaligus memperluas peluang usaha dan meningkatkan daya saing kopi lokal di pasar.